Ass. Wr Wb.
Ini adalah artikel yang pertama kali ane buat untuk iseng dan menumpahkan rasa yang menggeluti jiwaku selama ini. tak ada habisnya kita berbicara masalah kemiskinan serta kepedulian terhadap orang - orang yang hidup di daerah pinggiran yang ingin melangkah serta merasakan apa yang seharusnya dirasa oleh setiap manusia layaknya orang yang merdeka.
kisah ini akan sedikit mengetuk hati kita yang masih memendam tenggang rasa terhadap sesama.
okey, kita mulai ceritanya,,
aku adalah seorang alumni pondok pesantren yang lumayan terkenal di indonesia ini, bertahun-tahun lamanya aku bergelut dalam pelajaran berbasis agama yang pasti tidak akan lepas dari tafsir, hadist, b. arab, fiqih, tauhid dan sebagainya.
seusainya aku menempuh KBM di pondok itu, aku bingung dan tercengang menyaksikan adegan panggung kehidupan zaman sekarang. aku merasa bodoh ditengah kerasnya pergaulan yang tengah terjadi.
aku pun memutuskan untuk menyendiri dan ingin melangkah mengikuti kakiku bukan mengikuti jejak orang yang kita tidak tahu arah dan tujuannya.
aku memikul beban yang tak berat namun mengancam, menjadi benteng disaat aku akan melakukan maksiat, menjadi penenang disaat hati gundah. beban yang aku maksud yaitu ilmu yang kudapat selama aku mondok di pesantren. aku teringat dengan mahfuzhot (pelajaranku dulu) ''ilmu yang tidak diamalkan bagaikan pohon yang tak berbuah''. dari sana aku bertekad untuk menjadi guru, entah guru ngaji atau guru sd yang sekedar honorer.
dengan gaji yang tak seberapa kini aku telah menjadi salah satu anggota guru honorer di sd yg terletak di pinggiran. sedih rasanya melihat anak2 yang rindu perhatian serta pendidikan yang maksimal. timbullah hasrat untuk menggerakkan anak2 dan memotivasi mereka supaya bersemangat dalam menempuh jenjang pendidikan formal.
aku teringat dengan lagu iwan fals judulnya besar dan kecil. ketika aku meresapi lagu tersebut, memang itulah yang terjadi di negeri ini. orang kecil selalu tersingkir harus mengalah dan menyingkir.. orang besar selalu menang, bebas berbuat sewenang-wenang.
Harapanku untuk kedepannya,, semoga pemerintah bisa merasakan apa yang dirasa oleh para SUKWAN (Honorer) dan dengan segera bisa mengangkat kepedihan dan penderitaan yang dialami kami selama ini.